Urban Farming

Dalam beberapa tahun terakhir, tren urban farming kian diminati oleh masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Awalnya, konsep berkebun di lahan terbatas ini hanyalah sebatas inisiasi dari segelintir komunitas pecinta lingkungan yang bergerak secara mandiri. Kemudian, urban farming pun berkembang secara masif menjelma menjadi tren gaya hidup urban.

Urban farming adalah konsep memindahkan pertanian konvensional ke pertanian perkotaan, yang berbeda ada pada pelaku dan media tanamnya. Pertanian konvensional lebih berorientasi pada hasil produksi, sedangkan urban farming lebih pada karakter pelakunya yakni masyarakat urban.

Saat orang berpindah dari desa ke kota, tentu sebuah kota akan mempersempit sebuah lahan atau tanah-tanah yang sebenarnya masih bisa ditanami sebuah ladang pertanian. Sehingga untuk dapat menampung dan mendukung lebih banyak orang, lahan-lahan yang dapat berpontensi untuk bercocok tanam di sebuah kota akan diubah menjadi sebuah pemukiman.

Konsep urban farming lantas menawarkan solusi dengan menciptakan lahan terbuka hijau ditengah padatnya bangunan perkotaan. Urban farming dapat mengelola wilayah perkotaan yang tercemar menjadi lingkungan yang nyaman dan sehat untuk ditinggal.

Di New Jersey, kota-kota seperti Camden dan Trenton menjadi lebih padat karena mereka mengkonversi ke dalam ruang perkotaan. Sehingga ketika seseorang ingin melakukan kegiatan bertanam akan melaukan urban farming atau pertanian maupun perternakan vertikal.

Mengutip laman futurism, Paul PG Gauthier, seorang ahli pertanian vertikal di Institut Lingkungan Princeton mengatakan bahwa, mendirikan sebuah pertanian perkotaan bukanlah tugas yang mudah.

Menurutnya juga, menemukan cukup ruang untuk harga yang terjangkau dapat menyajikan sebuah hambatan yang signifikan bagi petani potensial. Petani vertikal juga perlu tahu bagaimana mengoperasikan teknologi yang lebih baik, termasuk sistem yang mengontrol unsur-unsur seperti kontaminan tanah dan ketersediaan air.

Untuk itu, sekarang bermunculan perusahaan-perusahaan yang membantu para petani perkotaan untuk mendapatkan fasilitas pertanian yang ingin dijalankannya.

Salah satu perusahaan tersebut yang kini dikenal adalah Agritecture Consulting yang berbasis di Brooklyn, perusahaan ini membantu orang dan organisasi yang ingin memulai pertanian vertikal (urban farming) mereka sendiri untuk melakukan riset pasar dan analisis ekonomi, dan untuk merancang pertanian tersebut telah disiapkan seorang insinyur perencana.

Untuk memulai urban farming, berikut ini 6 tanaman yang disarankan Annisa yang bisa kamu praktikan.

1.Cabai merupakan tanaman sayuran yang ditemukan dibanyak masakan khas Indonesia. Namun, harga cabai di Indonesia sering tidak menentu. Bahkan, pada tahun 2016, harga cabai rawit pernah mencapai Rp100.000 per kilo. Untuk mengantisipasi situasi ini, ada baiknya jika kita mulai menanam cabai sendiri di rumah.

2.Tomat merupakan salah satu tanaman yang sering ditanam di pekarangan rumah karena kemampuannya untuk berbuah sepanjang tahun. Tomat kaya akan vitamin A dan C. Selain itu, tomat juga mengandung serat dan antioksidan. Buah tomat dapat dikonsumsi segar sebagai salad, minuman, atau diolah menjadi masakan.

3.Seledri karena kebanyakan masyarakat Indonesia menggunakan daun seledri untuk menambah cita rasa pada sop, tanaman ini juga disebut sebagai daun sop. Namun, tanaman dengan daun bergerigi ini juga bermanfaat sebagai obat-obatan, terutama untuk menurunkan tekanan darah.

#mudah menanam

#mudah merawat

#tinggal memanen