Benih Sebagai Warisan Untuk Anak Cucu

Saat ini semakin jarang kita menemukan lahan hijau, terutama di daerah perkotaan. Bukan hutan berisi pepohonan yang kita jumpai, melainkan hutan berisi gedung-gedung yang menjulang tinggi. Padahal pohon memiliki banyak manfaat bagi keberlangsungan hidup manusia. Jika lahan hijau semakin berkurang hal ini tentu akan berdampak besar pada lingkungan.

Solusi dari masalah tersebut tidaklah sulit, kita hanya perlu menanam pohon untuk menambah ruang hijau di sekitar kita. Tidak perlu tanaman yang besar, tanaman-tanaman kecil pun bisa membantu pasokan oksigen di lingkungan kita.

Tanaman seperti apa yang bisa kita tanam? Bisa berupa tanaman sayur-sayuran seperti bayam, cabai, tomat, dan masih banyak yang lainnya. Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dengan menanam sayuran. Hasil dari tanaman tersebut bisa kita konsumsi sendiri. Sehingga dapat mengurangi pengeluaran belanja harian.

Selain itu sayuran yang dihasilkan pun lebih menyehatkan dari pada yang kita beli di pasar. Karena sayuran yang kita tanam sendiri adalah sayuran organik tanpa bahan kimia dan peptisida. Sayuran ini pun bisa dengan mudah kita tanam di halaman atau di teras rumah. Tidak perlu lahan yang luas.

Tidak hanya hasil panen saja yang kita dapat, banyak manfaat lainnya yang bisa kita dapatkan. Dengan tanaman yang kita tanam kita turut menambah pasokan oksigen di udara dan juga menjaga ekosistem lingkungan. Hal ini bisa menjadi warisan yang bermaanfaat untuk anak cucu kita nanti.

Warisan yang kita berikan bukan hanya hasil panennya saja. Ilmu bercocok tanam dan juga kesadaran untuk selalu menjaga lingkungan sekitar.

Tentunya kita tidak ingin anak cucu kita tinggal di lingkungan yang tidak sehat. Oleh karena itu mari biasakan menaman sayuran di rumah. Sehingga tidak hanya hasilnya saja yang kita wariskan kepada anak cucu kita. Tetapi juga lingkungan yang sehat dan bersih bebas dari polusi. Tidak hanya itu kita juga mewariskan cadangan oksigen untuk generasi masa depan.

Mari kita tanam benih sayuran sebagai warisan untuk anak cucu kita di masa depan.

URBAN FARMING SEBAGAI SOLUSI KETAHANAN PANGAN

Saat ini wabah virus corona [COVID-19] memasuki bulan ke empat. Dengan jutaan masyrakat yang terkena dan terdampak dari wabah ini baik di Indonesia sendiri maupun di belahan Negara lainnya. Salah satu dampak akibat wabah ini yaitu kondisi pangan baik secara global maupun secara nasional.

Wabah ini sudah merusak tatanan kehidupan sosial bermasyarakat, di antaranya hilangnya kepercayaan terhadap orang di sekitar kita. Rasa saling curiga secara naluri akan menerapkan social distancing, bahkan telah mengganggu kehangatan anggota keluarga di rumah, maka rusaklah semua tata krama yang telah dibangun selama ini. Saling jabat tangan, pasalnya virus ini bisa bepindah ketika kita berjabat tangan atau bersentuhan.

Lantaran itulah maka pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan tujuan agar rantai kehidupan virus corona terputus.

Apa yang terjadi jika PSBB diberlakukan, yang pasti akan banyak pembatasan kerumunan orang, termasuk di pasar akan diberlakukan social distancing atau jaga jarak sosial. Akibatnya pengunjung pasar merosot, penjualan akan tidak sesuai harapan, akibatnya para pedagang banyak yang gulung tikar termasuk pedagang sayur mayur.

Inilah yang ditakutkan para ibu rumah tangga, jika tidak ada pedagang sayur mayur lantas bagaimana bisa memenuhi kebutuhan makanan sehat di rumah. Maka perlu adanya gerakan meningkatkan ketahanan pangan keluarga, lebih khusus lagi pada sayuran dengan membangun kebun sayur keluarga untuk melawan dampak pandemi virus corona (covid-19).

Dengan kondisi tersebut urban farming adalah solusinya. Kita bisa memanfaatkan lahan kosong yang ada di sekitar rumah, seperti diteras, dibelakang rumah disamping rumah atau bahkan di rootop/balkon rumah. Urban Farming menjadi pilihan untuk membantu ketahanan pangan khususnya di lingkungan keluarga dan didaerah yang memiliki lahan sempit.

Dengan metode urban farming sangat hemat tempat, sehingga bisa bercocok tanam sekalipun hanya di balkon atau diteras saja. Tanamannya pun bisa bervariasi, mulai dari pakchoi, terong, bayam, Lombok, sawi, kangkung dan sayur mayor lainnya yang bisa membantu lingkungan keluarga.

Tak perlu repot dan khawatir pergi kepasar, karena kita hanya memerlukan beberapa pot tanaman dan bibit unggul untuk memulai membuat lading sayur mayor dilahan yang telah ada dirumah. 

Nah yuk order benih untuk ditanam

Klik :

https://tinyurl.com/Orderbenih

Mudahnya Bercocok Tanam di Halaman Rumah

Merasa bosan di rumah dan ingin bercocok tanam dirumah? Tak perlu pusing memikirkan jalan keluarnya. Yang kamu perlukan hanya kreatifitas saja, seperti memanfaatkan loteng rumah atau halaman yang sempit. Bercocok tanam di rumah tak hanya menyalurkan hobby tapi juga untuk menyejukan rumah dan kelihatan lebih indah.

Kemajuan teknologi memacu kita untuk lebih kreatif, karena keterbatasan bukanlah menjadi penghalang kita untuk maju dan berkembang. Karena itu,ada 4 tips yang bisa kamu terapkan untuk bercocok tanam di rumah.

Langkah Pertama

Langkah awal yang harus dilakukan adalah memiliih tamanan yang cocok ditanam di halaman rumah, pada umumnya golongan buah – buahan, sayuran dan tanaman obat.

Ketiga jenis tanaman ini tidak hanya cepat dipanen, tetapi bisa ditanam di halaman rumah atau loteng, serta tidak memerlukan biaya perawatan yang mahal.

Langkah Kedua

Langkah kedua yang perlu disiapkan adalah media yang sesuai untuk menamam sayuran atau buah. Metode penamaman ada beberapa macam yaitu media hidroponik, media pot, dan polybag. Hidroponik ini merupakan metode paling menghasilkan dan efisien secara perawatan. Menanam menggunakan media dan pot dan polybag, sangat efektif digunakan di halaman sekitar rumah yang sempit.

Langkah Ketiga

Hal penting yang menentukan keberhasilan dalam bercocok tanam tak lain adalah perawatan. Dengan memberikan perawatan yang konsisten maka jumlah panen yang didapat  tidaklah mengecewakan. Perawatan tak lepas dari pemberian pupuk. Sangat disarankan untuk memberikan pupuk organic, diberikan dengan takaran yang sesuai dengan tanaman, untuk menunjang pertumbuhan tanaman.

Langkah Keempat

Setelah menamam dan tanaman mulai tumbuh, kamu harus waspada terhadap penyakit atau hama yang menyerang tanaman, sehingga kamu bisa Selain itu, kegagalan panen karena perubahan cuaca bisa kamu antisipasi dengan memberikan ruang yang cukup antara udara, sinar matahari maupun waktu menyirami tanaman. Segeralah potong cabang tanaman yang terinidkasi hana atau penyakit, atau isolasi ditempat khusus agar tidak menularkan pada lainnya.

Cara menanam sayuran atau buah sangat mudah bukan?  Untuk kamu yang bingung untuk mencari bibit unggul, tak perlu pusing karena Jaya Seed menyediakan berbagai macam bibit unggul tanaman dan sayuran yang bisa kamu tanam di halamanmu.

Urban Farming

Dalam beberapa tahun terakhir, tren urban farming kian diminati oleh masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Awalnya, konsep berkebun di lahan terbatas ini hanyalah sebatas inisiasi dari segelintir komunitas pecinta lingkungan yang bergerak secara mandiri. Kemudian, urban farming pun berkembang secara masif menjelma menjadi tren gaya hidup urban.

Urban farming adalah konsep memindahkan pertanian konvensional ke pertanian perkotaan, yang berbeda ada pada pelaku dan media tanamnya. Pertanian konvensional lebih berorientasi pada hasil produksi, sedangkan urban farming lebih pada karakter pelakunya yakni masyarakat urban.

Saat orang berpindah dari desa ke kota, tentu sebuah kota akan mempersempit sebuah lahan atau tanah-tanah yang sebenarnya masih bisa ditanami sebuah ladang pertanian. Sehingga untuk dapat menampung dan mendukung lebih banyak orang, lahan-lahan yang dapat berpontensi untuk bercocok tanam di sebuah kota akan diubah menjadi sebuah pemukiman.

Konsep urban farming lantas menawarkan solusi dengan menciptakan lahan terbuka hijau ditengah padatnya bangunan perkotaan. Urban farming dapat mengelola wilayah perkotaan yang tercemar menjadi lingkungan yang nyaman dan sehat untuk ditinggal.

Di New Jersey, kota-kota seperti Camden dan Trenton menjadi lebih padat karena mereka mengkonversi ke dalam ruang perkotaan. Sehingga ketika seseorang ingin melakukan kegiatan bertanam akan melaukan urban farming atau pertanian maupun perternakan vertikal.

Mengutip laman futurism, Paul PG Gauthier, seorang ahli pertanian vertikal di Institut Lingkungan Princeton mengatakan bahwa, mendirikan sebuah pertanian perkotaan bukanlah tugas yang mudah.

Menurutnya juga, menemukan cukup ruang untuk harga yang terjangkau dapat menyajikan sebuah hambatan yang signifikan bagi petani potensial. Petani vertikal juga perlu tahu bagaimana mengoperasikan teknologi yang lebih baik, termasuk sistem yang mengontrol unsur-unsur seperti kontaminan tanah dan ketersediaan air.

Untuk itu, sekarang bermunculan perusahaan-perusahaan yang membantu para petani perkotaan untuk mendapatkan fasilitas pertanian yang ingin dijalankannya.

Salah satu perusahaan tersebut yang kini dikenal adalah Agritecture Consulting yang berbasis di Brooklyn, perusahaan ini membantu orang dan organisasi yang ingin memulai pertanian vertikal (urban farming) mereka sendiri untuk melakukan riset pasar dan analisis ekonomi, dan untuk merancang pertanian tersebut telah disiapkan seorang insinyur perencana.

Untuk memulai urban farming, berikut ini 6 tanaman yang disarankan Annisa yang bisa kamu praktikan.

1.Cabai merupakan tanaman sayuran yang ditemukan dibanyak masakan khas Indonesia. Namun, harga cabai di Indonesia sering tidak menentu. Bahkan, pada tahun 2016, harga cabai rawit pernah mencapai Rp100.000 per kilo. Untuk mengantisipasi situasi ini, ada baiknya jika kita mulai menanam cabai sendiri di rumah.

2.Tomat merupakan salah satu tanaman yang sering ditanam di pekarangan rumah karena kemampuannya untuk berbuah sepanjang tahun. Tomat kaya akan vitamin A dan C. Selain itu, tomat juga mengandung serat dan antioksidan. Buah tomat dapat dikonsumsi segar sebagai salad, minuman, atau diolah menjadi masakan.

3.Seledri karena kebanyakan masyarakat Indonesia menggunakan daun seledri untuk menambah cita rasa pada sop, tanaman ini juga disebut sebagai daun sop. Namun, tanaman dengan daun bergerigi ini juga bermanfaat sebagai obat-obatan, terutama untuk menurunkan tekanan darah.

#mudah menanam

#mudah merawat

#tinggal memanen